Gamat | Gold-G | Jeli Gamat | Jelly Gamat Gold-G - Pusat penjualan jelly gamat gold-g, berguna untuk melancarkan peredaran darah, mencegah kolesterol, maag, melancarkan fungsi ginjal, meningkatkan kadar metabolisme, diabetes mellitus dan hipertensi.

Protein Sea Cucumber/Timun Laut/Teripang/Gamat Menghambat Pengembangan Parasit Malaria

Penelitian oleh :

  1. Shigeto Yoshida, Yohei Shimada, Daisuke Kondoh dari Division of Medical Zoology, Department of Infection and Immunity, Jichi Medical University, Tochigi, Japan
  2. Yoshiaki Kouzuma, College of Agriculture, Ibaraki University, Ami-machi, Inashiki-gun, Ibaraki, Japan,
  3. Anil K. Ghosh, Marcelo Jacobs, Lorena, Department of Molecular Microbiology and Immunology, Malaria Research Institute, Johns Hopkins School of Public Health, Baltimore, Maryland, United States of America,
  4. Robert E. Sinden, Infection and Immunity Section, Division of Cell and Molecular Biology, Imperial College London, South Kensington, London, United Kingdom.

 

Para peneliti diatas telah melakukan rekayasa genetik pada nyamuk dengan melepaskan protein sea cucumber/ timun laut/teripang/gamat pada ususnya yang merusak perkembangan parasit malaria. Para peneliti mengatakan perkembangan ini merupakan langkah menuju pengembangan metode masa depan mencegah penularan malaria. Malaria disebabkan oleh parasit yang hidupnya dimulai dalam tubuh nyamuk. Ketika nyamuk makan darah seorang manusia yang terinfeksi, parasit malaria mengalami perkembangan kompleks di usus serangga. Studi terbaru lebih fokus pada bagaimana mengganggu pertumbuhan dan perkembangan dengan protein yang mematikan, CELIII, yang ditemukan di timun laut, untuk mencegah nyamuk malaria mengirimkan parasit.

Darah manusia yang terinfeksi malaria mengandung gametocytes parasit, yang merupakan sel yang dapat menciptakan sperma parasit dan telur dalam usus serangga. Setelah membuahi, dimulailah proses reproduksi parasit dan siklus hidup dengan memproduksi keturunan invasif yang disebut ookinetes. Ookinetes kemudian bermigrasi melalui dinding perut nyamuk dan memproduksi ribuan sel ‘anak’ yang dikenal sebagai sporozoit. Setelah 10-20 hari sporozoit ini sudah siap di dalam kelenjar ludah untuk menginfeksi manusia lain ketika nyamuk mengambil makan dengan mengisap darah berikutnya.

Para peniliti kemudian menggabungkan bagian dari gen lektin timun laut / teripang /seacucumber / gamat dengan bagian gen nyamuk, sehingga nyamuk mengeluarkan lektin pada ususnya selama makan. Lektin yang dikeluarkan adalah racun bagi ookinete sehingga membunuh parasit dalam perut nyamuk.

Dalam tes laboratorium, tim peneliti menunjukkan bahwa pemberian lektin ke dalam usus nyamuk dapat merusak perkembangan parasit malaria dalam nyamuk, dimana akan berpotensi mencegah penularan kepada orang lain. Indikasi awal menyarankan, protein timun laut / teripang / gamat efektif pada lebih dari satu dari empat parasit yang berbeda yang dapat menyebabkan malaria pada manusia.

Profesor Bob Sinden dari Departemen Imperial College London of Life Sciences, mengatakan: “Hasil ini sangat menjanjikan dan menunjukkan bahwa rekayasa genetik nyamuk dengan cara ini memiliki dampak yang jelas pada kemampuan parasit untuk berkembang biak di dalam nyamuk inangnya. Namun bagaimanapun juga, Profesor Sinden menjelaskan masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum teknik-teknik tersebut dapat digunakan untuk memerangi penyebaran malaria. Hal ini dikarenakan meskipun protein timun laut/teripang/gamat secara signifikan mengurangi jumlah parasit dalam nyamuk, namun tidak benar-benar menghapus semua parasit dari semua nyamuk dan pada tahap ini belum cukup efektif untuk mencegah penularan malaria ke manusia.

Profesor Sinden mengatakan ia berharap studi seperti ini, akan meningkatkan pemahaman para ilmuwan tentang proses yang kompleks mengenai penularan parasit malaria, dimana akan mengarah pada terobosan baru dalam upaya untuk mencegah malaria. Pada akhirnya, salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan cara rekayasa genetik nyamuk sehingga parasit malaria tidak dapat berkembang di dalam tubuh malaria.

Penelitian ini adalah salah satu langkah maju, karena telah menunjukkan bahwa lebih dari satu spesies malaria dapat dibunuh dengan cara ini. Sekitar 40% dari populasi dunia beresiko malaria. Dari jumlah tersebut 2,5 miliar orang berisiko, lebih dari 500 juta menderita sakit malaria setiap tahun dan lebih dari 1 juta meninggal akibat efek dari penyakit ini.

gamat

ScienceDaily (Dec. 20, 2007)

Leave a Reply